Berawal dari sebuah desa bernama Tsuchiko, di mana desa ini merupakan desa yang sejak dulu tentram damai. Semua rakyat di desa ini hidup bersama, saling bantu satu sama lain. Hanya saja, satu hal yang menjadi masalah.
wuuuuzz............ "hei, kurang ajar kau" kata pedagang buah. "oh, maaf. hihihi" kata anak muda yang terbang dengan selancar anginnya sambil memakan apel. Namanya Aron Ushida, tubuh tidak kurus tidak gemuk, seumuran anak remaja yang ada di desanya, memiliki rambut seperti Luffy(baca: One Piece), bermata sedang dan selalu memakai celana 3/4 dan kaos seperti kaos dalam. Dia tiba di rumahnya yang ada di dekat sawah. "Dari mana saja kau?" tanya seseorang yang keluar dari sebuah dapur. Namanya kakek Tou Ushida. Umur nya bisa dibilang tua, tapi semangatnya masih seperti anak seumuran Aron. Dia selalu memakai tongkat untuk berjalan. Rambutnya sudah seperti umurnya, kumis putih yang tidak terlalu panjang seperti zaman kerajaan Cina. Tidak ada yang istimewa dari dirinya, karena dia selalu mengerjakan sawah miliknya.
"Oh, kakek. seperti biasalah jalan - jalan keliling desa" jawabnya. "Apa tidak ada jawaban lain? Dari kemarin jawabanmu itu saja. kau kan sudah tahu daerah desa ini. Kau jail lagi ya?". "Ah, kakek. jangan menuduh terus. belum tentu itu benar" jawabnya sambil minum. "Awas kalau aku menerima laporan dari penduduk di sini tentang kelakuanmu" mengancam dengan cambuk andalannya sambil memincingkan matanya. "Santai kek, santai. Jangan marah dulu". Tiba - tiba, "Kakek Tou" teriak si pedagang buah sambil mendobrak pintu. Aron kaget, kakek Tou tentu tidak. Dia mulai memukul Aron dengan cambuknya. "Ampun kek, ampun". "Kau kira aku tidak tahu ya soal dirimu setiap hari, hah" teriak kakek Tou sambil melanjutkan dengan menamparnya. 'Ah, lebih baik aku tadi tidak ke sini' pikir si pedagang.
"Oh, kakek. seperti biasalah jalan - jalan keliling desa" jawabnya. "Apa tidak ada jawaban lain? Dari kemarin jawabanmu itu saja. kau kan sudah tahu daerah desa ini. Kau jail lagi ya?". "Ah, kakek. jangan menuduh terus. belum tentu itu benar" jawabnya sambil minum. "Awas kalau aku menerima laporan dari penduduk di sini tentang kelakuanmu" mengancam dengan cambuk andalannya sambil memincingkan matanya. "Santai kek, santai. Jangan marah dulu". Tiba - tiba, "Kakek Tou" teriak si pedagang buah sambil mendobrak pintu. Aron kaget, kakek Tou tentu tidak. Dia mulai memukul Aron dengan cambuknya. "Ampun kek, ampun". "Kau kira aku tidak tahu ya soal dirimu setiap hari, hah" teriak kakek Tou sambil melanjutkan dengan menamparnya. 'Ah, lebih baik aku tadi tidak ke sini' pikir si pedagang.
"Hahahahaha" tawa temannya, Ach yang memiliki tubuh sedikit lebih besar dan tinggi dari Aron, dagu sedikit maju dan memakai ikat kepala merah di lengan kirinya, ketika Aron menceritakan cerita yang baru saja dia alami dengan meninggalkan bekas memar di mukanya. "Bisa - bisanya kau tertawa seperti itu Ach". "Ah, maaf - maaf". "Tapi, sudah tahu akan begini kau masih saja melanjutkannya" lanjut teman lainnya, Lee yang kurus, memakai kacamata bulat dan berambut sepeti Lee(baca: Naruto), sambil mengobati Aron. Mereka sedang berkumpul di sebuah pohon beringin besar di sebuah hutan desa Tsuchiko yang mereka anggap adalah markas rahasia mereka walaupun sudah banyak penduduk yang sudah tahu. "Terima kasih". "Ah, aku sudah biasa. jangan berterima kasih kepadaku" jawab Lee dengan senyum kecilnya.
"Aron, apa kita tidak memindahkan markas kita ini? Ini sih bukan markas rahasia kalau penduduk sini sudah banyak yang tahu" usul Lee. "Mmm...... aku sih juga ingin seperti itu tapi aku tidak tahu di mana tempatnya. Ada yang mau usul?" ujar Aron. Sebenarnya markas (pohon beringin) mereka terletak di dekat pintu masuk desa. Jadi wajar saja jika mereka ingin pindah markas. Awalnya, tempat ini ditemukan oleh Aron sejak masih 5 tahun. Lalu, ia mengajak beberapa anak desa lainnya untuk datang ke markasnya untuk bermain sekaligus bergabung dalam kelompok yang telah dibuatnya, tetapi tidak ada yang mau kecuali Ach dan Lee. "Kau tidak akan pulang kan Aron malam ini?" tanya Ach. "Aku sudah bilang pada kakek jika aku akan menginap di markas". "hahh..., baguslah kalau begitu. Ayo kita siap - siap dulu" ajak Ach.
"Aron, apa kita tidak memindahkan markas kita ini? Ini sih bukan markas rahasia kalau penduduk sini sudah banyak yang tahu" usul Lee. "Mmm...... aku sih juga ingin seperti itu tapi aku tidak tahu di mana tempatnya. Ada yang mau usul?" ujar Aron. Sebenarnya markas (pohon beringin) mereka terletak di dekat pintu masuk desa. Jadi wajar saja jika mereka ingin pindah markas. Awalnya, tempat ini ditemukan oleh Aron sejak masih 5 tahun. Lalu, ia mengajak beberapa anak desa lainnya untuk datang ke markasnya untuk bermain sekaligus bergabung dalam kelompok yang telah dibuatnya, tetapi tidak ada yang mau kecuali Ach dan Lee. "Kau tidak akan pulang kan Aron malam ini?" tanya Ach. "Aku sudah bilang pada kakek jika aku akan menginap di markas". "hahh..., baguslah kalau begitu. Ayo kita siap - siap dulu" ajak Ach.
"Jadi....... apa kita harus pindah markas?" tanya Ach sambil memanggang hasil buruan mereka. Kadang - kadang mereka berburu di hutan yang terletak di luar desa dengan alat mereka sendiri. Saat itu hari sudah malam. " Semua daerah di desa ini sudah banyak orang yang tahu, jadi tidak ada tempat yang rahasia lagi" jawab Lee dengan kepala tertunduk. "Jangan menyerah begitu dong. Pasti ada sebuah tempat yang belum diketahui penduduk desa. Ya kan, Aron?" tanya Ach dengan tegas. Aron melamun, dia sedang memikirkan sebuah tempat yang baru saja dia temukan tadi pagi. Tempat itu seperti goa, ada obor di sepanjang lorong goa, seperti mengajak Aron untuk masuk ke dalam. Saat itu dia bertemu seorang kakek yang duduk di sebuah batu dekat mulut goa. 'Jangan beritahu siapa - siapa tentang tempat ini termasuk teman-teman dan saudaramu' kata sang penjaga goa yang menurutnya lebih tua dari kakek Tou. Dia sebenarnya ingin masuk ke dalam karena ingin tahu apa yang tersembunyi di dalam goa tersebut. Lalu, dia meninggalkan "Hoi, Aron" teriak Ach. "Ya. Ada apa?" tanya Aron heran. "Apa yang sedang kau pikirkan? apa kau tahu di mana markas baru kita?" tanya Ach. "Ah, bukan itu kok". "Lalu, apa yang kau pikirkan?" tanya Lee "Jangan sembunyikan sesuatu dari kami". "Ah, tidak ada kok, tidak ada. Oh ya, tadi kita sampai mana ya?" jawab Aron. "Mmm.... oke...begini...."
Belum selesai bicara, mereka dikagetkan dengan suara dari dekat mereka berkumpul. 2 orang pemabuk berat dari sebuah desa tak dikenal datang mengacau. Beruntung, markas mereka ada di bukit jadi mudah mengawasi dari sana. "Hei, penduduk desa. Hiks" teriak salah satu dari mereka "Kami membawa berita buruk kepada kalian. Hiks" katanya sambil mabuk. "Itu benar, hiks. Ketua kelompok kami hiks....... akan datang kemari untuk menghabisi desa kalian, hiks. Jadi, pergilah dari sini sebelum kalian senasib dengan desa kalian, hiks". "Apa yang kalian katakan itu benar?" kata kakek Tou yang tiba - tiba ada di belakang mereka. 'Itu kan kakek, buat apa dia ada di sana?' pikir Aron. "Aron, apa tidak bahaya jika kakekmu berada di sana?" tanya Ach. "Coba pikir, apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku tidak bisa apa - apa" jawab Aron. "Tapi Aron......" keluh Lee. 'Sudah, diam saja kalian di sana. Biar aku yang urus dua orang ini' jawab kakek Tou. 'Kenapa ada suara kakek Tou' Aron heran. "Apa tadi kalian juga mendengar?". "Ya, jelas sekali" jawab Ach. "Ya" lanjut Lee.
"Untuk apa kalian menyampaikan hal itu kepada kami?" tanya kakek Tou. "Kau ingin tau kakek tua? Hiks, hei, jelaskan padanya teman". "hiks, oke. Kami berasal dari kelompok Chesspada, tepatnya bawahan dari anggota inti Chesspada, hiks. Tujuan utama kelompok kami adalah membentuk sebuah negara yang aman dan damai, seperti yang diinginkan oleh Kuroki-sama, hiks" jawab si pemabuk. "Sudah kuduga, ternyata kalian dikirim oleh dia" kata kakek Tou. "Lalu, kau mau apa kakek tua? hiks, mau mengusir kami? Lebih kau tidur saja di ranjang empukmu hiks, atau mungkin kau bisa pergi dari sini sebelum terlambat, hiks" kata pemabuk lainnya. "Kalian bilang aku ini kakek tua? Sombong sekali kalian ini" kata kakek Tou dengan tenang. "Apa? Kurang ajar kau" raung si pemabuk sambil bersiap memukul. "Ah, aku ingin mengatakan pada kalian" kata kakek Tou yang sudah berada di samping pemabuk yang akan memukul "AKU INI BUKAN KAKEK TUA BIASA" lanjutnya sambil memukul dengan tongkat yang ia pakai untuk berjalan. Si pemabuk terlempar jauh dekat Aron, Lee, Ach mengamati. Mereka heran, terlebih Aron. Dia sampai - sampai tidak mengedipkan matanya. 'apa yang kulihat ini benar?' tanya Aron pada dirinya sendiri. "Apa yang kau lakukan kakek tua, hiks?" pemabuk lainnya berlari menuju ke arah kakek Tou. "Jadi, kau ingin juga ya?" kata kakek Tou yang lagi - lagi ada di belakang pemabuk. "Apa?". Kakek Tou mengayunkan tangan kanannya dan seolah-olah mendorong si pemabuk. "HOU![=dorong!]". Pemabuk ini terlempar lebih jauh dari yang tadi, keluar desa dan terkapar lemah tak berdaya.
"Apa yang kalian lihat dari situ?" jawab pemabuk yang pertama terlempar. Aron, Lee, Ach kaget. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Ya sudah jika kalian tidak mau menjawab" sambil mengayunkan tinju ke arah mereka bertiga. "Ya ampun, ternyata kau itu berani pada yang lemah, ya" jawab kakek Tou yang sudah ada di samping pemabuk itu. Sekali pemabuk itu menoleh, kakek Tou sudah mengayunkan tangan kanannya "HOU!". Mereka bertiga tercengang melihat apa yang dilakukan oleh kakek Tou barusan. Kedua pemabuk berada di luar desa. Kakek Tou menghampiri mereka. "Jangan pernah ada niat untuk menghancurkan desa kami". "Kurang ajar kau kakek sialan. Kuhajar kau" kata si pemabuk yang baru saja terlempar. "Kuroki-sama akan memberi waktu pada kalian untuk meninggalkan desa ini atau kalau tidak.....". Belum selesai bicara, empat orang muncul di belakang kakek Tou yang menurut Aron aneh jika mereka ada di sana. Mereka adalah si pedagang buah yang membawa tongkat kayu, bibi penjual bunga yang membawa kipas di kedua tangannya, nahkoda yang selalu merokok di manapun dia berada, dan paman tukang besi yang memakai cakar besi di kedua tangannya. "Atau apa?" tanya kakek Tou tenang.
"Sialan" sambil menggopoh temannya yang terbaring lemas "Tunggu pembalasan dari kami". Mereka berdua kabur dan hilang di kegelapan malam. "Apa yang akan kita lakukan setelah ini, kek?" tanya bibi penjual bunga. "Apa kalian ingin tinggal di sini lagi?" tanya kakek Tou. "Tentu aku mau, kek" jawab pedagang buah. "Huh" si nahkoda menghela nafas "sudah banyak yang aku alami di desa ini". "Akan kupertahankan desa ini walaupun nyawa bayarannya" tegas paman tukang besi. "Jangan berkata seperti itu. Yang penting aku mau" jawab bibi penjual bunga. "Baiklah kalau begitu" kata kakek Tou "Besok, persiapkan diri kalian untuk menjaga desa ini". "Baik" jawab mereka bereempat serentak. "Karena besok akan lebih hebat dari yang sekarang dan hanya kita yang bisa diandalkan desa ini" lanjut kakek Tou.
"Apa yang kalian lihat dari situ?" jawab pemabuk yang pertama terlempar. Aron, Lee, Ach kaget. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Ya sudah jika kalian tidak mau menjawab" sambil mengayunkan tinju ke arah mereka bertiga. "Ya ampun, ternyata kau itu berani pada yang lemah, ya" jawab kakek Tou yang sudah ada di samping pemabuk itu. Sekali pemabuk itu menoleh, kakek Tou sudah mengayunkan tangan kanannya "HOU!". Mereka bertiga tercengang melihat apa yang dilakukan oleh kakek Tou barusan. Kedua pemabuk berada di luar desa. Kakek Tou menghampiri mereka. "Jangan pernah ada niat untuk menghancurkan desa kami". "Kurang ajar kau kakek sialan. Kuhajar kau" kata si pemabuk yang baru saja terlempar. "Kuroki-sama akan memberi waktu pada kalian untuk meninggalkan desa ini atau kalau tidak.....". Belum selesai bicara, empat orang muncul di belakang kakek Tou yang menurut Aron aneh jika mereka ada di sana. Mereka adalah si pedagang buah yang membawa tongkat kayu, bibi penjual bunga yang membawa kipas di kedua tangannya, nahkoda yang selalu merokok di manapun dia berada, dan paman tukang besi yang memakai cakar besi di kedua tangannya. "Atau apa?" tanya kakek Tou tenang.
"Sialan" sambil menggopoh temannya yang terbaring lemas "Tunggu pembalasan dari kami". Mereka berdua kabur dan hilang di kegelapan malam. "Apa yang akan kita lakukan setelah ini, kek?" tanya bibi penjual bunga. "Apa kalian ingin tinggal di sini lagi?" tanya kakek Tou. "Tentu aku mau, kek" jawab pedagang buah. "Huh" si nahkoda menghela nafas "sudah banyak yang aku alami di desa ini". "Akan kupertahankan desa ini walaupun nyawa bayarannya" tegas paman tukang besi. "Jangan berkata seperti itu. Yang penting aku mau" jawab bibi penjual bunga. "Baiklah kalau begitu" kata kakek Tou "Besok, persiapkan diri kalian untuk menjaga desa ini". "Baik" jawab mereka bereempat serentak. "Karena besok akan lebih hebat dari yang sekarang dan hanya kita yang bisa diandalkan desa ini" lanjut kakek Tou.
Dari goa yang ditemukan Aron, penjaga goa hanya berkata sambil melihat ke atas "Hm, perang akan dimulai"