Saat itu, hari menunjukan tengah hari. Teriknya matahari tak membuat semua orang yang berada di desa Tsuchiko menghentikan aktivitas mereka yang sedang berlangsung. Darah yang mengucur deras, korban yang berjatuhan, keringatpun tak dihiraukan.
Semua pasukan andalan Mishima yang baru saja dipanggil, lenyap tanpa sisa, karena serangan gabungan kakek Tou dan Tusk. "Apa sudah berakhir?". "Bisa kau lihat sendiri Tusk" jawab kakek Tou tenang. "SIALAAAN...." teriak Mishima "Apa kalian pikir ini sudah selesai?". "Yah, begitulah" jawab Tusk "Kau sudah tak punya pasukan lagi, hanya kau sendiri yang harus kami kalahkan" lanjutnya dengan mengarahkan kapaknya ke Mishima. "Kau pikir demikian?" tanya Mishima. Tiba-tiba saja, seekor kuda hitam melompat dari balik rumah penduduk yang sudah hancur, hendak menyerang Tusk dan kakek Tou. 'bagaimana bisa...' pikir Tusk sambil menoleh. "Jadi..... kau masih punya pasukan cadangan ya?" tanya kakek Tou pelan "Aku juga masih punya".
Tiba-tiba, sang nahkoda dan pedagang buah muncul dari arah berlawanan memukul kuda tersebut. "Fuh.... hampir saja" kata sang nahkoda sambil melihat kuda yang baru saja ia tendang. "Kau tak apa-apa, kek?" tanya pedagang buah. "Hanya luka sedikit". "Tak rugi aku kembali ke desa ini lagi" kata Tusk. "Semoga kau tidak merusak keadaan lagi Tusk" kata sang nahkoda tenang sambil menghisap rokoknya. Dari arah belakang Mishima, penjual bunga dan tukang besi datang. "Jadi, hanya tinggal 1 orang?" tanya tukang besi. "Tanpa kujawab, kau bisa lihat sendiri". "Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja?" tanya Mishima dengan nada agak keras sambil mengelus kudanya yang tergeletak tak jauh darinya. Wajahnya merah padam, ada sesuatu yang dia ingin sekali dilakukan. "Ya. kurasa begitu" jawab pedagang buah. Sambil berdiri, Mishima berkata, "Perkiraan kalian salah".
Angin di sekitarnya berhembus kencang, hampir seperti akan terjadi tornado. Mishima mengarahkan kedua tangannya ke atas. Perlahan, muncul angin topan kecil di atas kedua tangannya yang makin lama makin membesar. Kapaknyapun ikut terbawa, tetapi tidak bersama dengan reruntuhan rumah penduduk. Perlahan juga, kudanya juga terbawa angin topan. Tanpa hitungan menit, Mishima sudah berada di dalam angin topan tersebut. Setelah itu, angin tersebut makin lama makin membesar lagi. Kakek Tou, Tusk, dan 4 orang yang berada di sekitar kejadian tersebut, hanya berdiri menahan kencangnya angin. Perlahan, angin topan itu menghilang. Mereka semua membuka mata untuk melihat apa yang baru saja terjadi. Tak ada yang berubah, hanya ada yang sedikit berubah dari musuh mereka.
Tiba-tiba, sang nahkoda dan pedagang buah muncul dari arah berlawanan memukul kuda tersebut. "Fuh.... hampir saja" kata sang nahkoda sambil melihat kuda yang baru saja ia tendang. "Kau tak apa-apa, kek?" tanya pedagang buah. "Hanya luka sedikit". "Tak rugi aku kembali ke desa ini lagi" kata Tusk. "Semoga kau tidak merusak keadaan lagi Tusk" kata sang nahkoda tenang sambil menghisap rokoknya. Dari arah belakang Mishima, penjual bunga dan tukang besi datang. "Jadi, hanya tinggal 1 orang?" tanya tukang besi. "Tanpa kujawab, kau bisa lihat sendiri". "Kalian pikir aku akan menyerah begitu saja?" tanya Mishima dengan nada agak keras sambil mengelus kudanya yang tergeletak tak jauh darinya. Wajahnya merah padam, ada sesuatu yang dia ingin sekali dilakukan. "Ya. kurasa begitu" jawab pedagang buah. Sambil berdiri, Mishima berkata, "Perkiraan kalian salah".
Angin di sekitarnya berhembus kencang, hampir seperti akan terjadi tornado. Mishima mengarahkan kedua tangannya ke atas. Perlahan, muncul angin topan kecil di atas kedua tangannya yang makin lama makin membesar. Kapaknyapun ikut terbawa, tetapi tidak bersama dengan reruntuhan rumah penduduk. Perlahan juga, kudanya juga terbawa angin topan. Tanpa hitungan menit, Mishima sudah berada di dalam angin topan tersebut. Setelah itu, angin tersebut makin lama makin membesar lagi. Kakek Tou, Tusk, dan 4 orang yang berada di sekitar kejadian tersebut, hanya berdiri menahan kencangnya angin. Perlahan, angin topan itu menghilang. Mereka semua membuka mata untuk melihat apa yang baru saja terjadi. Tak ada yang berubah, hanya ada yang sedikit berubah dari musuh mereka.
Dari ujung kepala sampai perut, tak ada yang berubah dari Mishima, hanya saja bekas luka yang dia terima menghilang. Pada anggota badan bagian bawah, seluruh kakinya berubah bentuk menyerupai seekor kuda. Senjata yang dia gunakan tetap sama, tetapi sekarang dia memiliki 2 buah yang digenggam di kedua tangannya. Sekarang, Mishima telah menjadi makhluk gabungan antara manusia dan kuda, bisa dibilang Centaurus.
"Apa kalian sudah siap pada babak yang kedua?" tanya Mishima sedikit garang. Nafasnya sedikit berat dan agak cepat. "Apa kau tidak punya masalah dengan bentuk tubuh barumu itu?" tanya Tusk. "Lihat saja sendiri". Mishima bersiap layaknya kuda yang ingin maju di arena pertarungan, mengangkat dua kaki depannya dan memutar dua kapaknya bersamaan. Dia mengulang lagi dengan sedikit hentakan yang keras. Setelah dia menghentakan kakinya lagi, dia menghilang dengan cepat, seperti asap dan tak dapat ditangkap oleh mata. Tanpa pikir panjang, kakek Tou berteriak,"Hati-hati semua. Siapkan diri kalian terhadap serangannya!". "BAIK". Kelima orang tadi menyebar teratur, membentuk segi 6. "Aku masih membutuhkanmu Tusk" kata kakek Tou. "Dengan senang hati".
Keheningan terjadi sejenak. Semua sudah bersiap di posisinya. 'Ada di mana dia?' pikir sang tukang besi. "Masih berpikir di mana aku?" jawab Mishima yang tiba-tiba muncul di belakangnya. "Celaka!". Belum sempat menoleh, dia sudah ditendang jauh Mishima. "SIALAAAAN" teriak sang pedagang buah sambil berlari menuju si tukang besi. "Jangan ke mana-mana. Tetap pada posisi kalian" teriak kakek Tou. "Hmm.... sudah terlambat kalian". Tak dapat terelakan, si pedagang buah menjadi korban selanjutnya. "Apa-apaan dia itu?" pikir si penjual bunga. Dia langsung menyerang ke arah Mishima, namun berhasil menghindar, lalu kembali menghilang. 'sembunyi di mana lagi dia?' pikirnya. "Maaf nona, tapi aku harus melakukannya" kata Mishima yang tiba-tiba muncul di belakang si penjual bunga. Mishima memukul bagian belakangnya hingga pingsan. "Nah..." belum selesai bicara, sang nahkoda dan Tusk langsung menyerangnya dari belakang. Tak semudah membalikkan telapak tangan, serangan mereka mudah ditangkis oleh Mishima dengan kapaknya tanpa melihat arah datangnya serangan mereka. "Hanya segini saja kemampuan kalian?". Sedikit kesal di antara mereka berdua. "Baiklah kalau begitu".
"Fire Line!" jurus tipe api yang berbentuk seperti benang meluncur menuju Mishima. Sayang, serangan yang diluncurkan kakek Tou itu meleset dari target yang dia incar tapi melukai wajah sebelah kiri Mishima walau hanya goresan kecil. Dengan cepat, sang nahkoda dan Tusk menyingkir ke arah yang berlawanan. "Ternyata, kau masih ingin bermain-main denganku ya kek?". "Mengapa tidak?" sambil bersiap mengeluarkan jurus yang sama, tapi api yang keluar lebih banyak. "Fire Straights!". Dengan cepat Mishima memutar kapaknya. Tak tinggal diam, sang nahkoda mulai menyerang pula dengan berlari dan menendang, begitu pula dengan Tusk yang juga mulai ikut menyerang. "Ice Arrow!" jurus tipe es yang dikeluarkan Tusk langsung mengarah ke Mishima. Jurus ini hampir sama dengan hujan es, hanya saja muncul hanya sekali. "Itu dia" Sang nahkoda sudah menentukan sasaran tendangannya. Ketika menendang, bersamaan dengan jurus Ice Arrow, kaki sang nahkoda tertangkap. Begitu pula jurus Ice Arrow yang tiba-tiba juga lenyap. "Kalian pikir aku hanya punya 2 tangan?" kata Mishima sambil tersenyum "Kalian salah". Tak disangka, 2 tangan tambahan muncul tiba-tiba dari bawah tangan utama masing-masing. Tangan kirinya memegang kaki nahkoda dan tangan kanannya menahan serangan Tusk, begitu pula tangan-tangan utamanya memutar kapak untuk menangkis serangan kakek Tou.
Diputar dengan tangan kiri Mishima dan dilempar ke arah tiang besi membuat si nahkoda merintih. "Auuww..." sambil memegang punggungnya "Monster macam apa dia ini?". Sekilas, Mishima terlihat seperti Centaurus biasa, memiliki badan dan kaki kuda serta setengah tubuhnya bagian atas sebagai pengganti kepala kuda tersebut. "Apa ini sudah selesai?" kata Mishima dengan nada tenang dan sedikit garang. Mishima memandang sekelilingnya. Si nahkoda yang masih terluka berusaha untuk berdiri, Tusk masih diam dan belum percaya akan perubahan Mishima dan memandangnya dengan tatapan ketidakpercayaan dan kesal, sementara kakek Tou terlihat begitu tenang meski dirinya masih berpikir keras. 'Apa-apaan orang ini?', 'Hawa kehadirannya selalu tak terkira, kekuatannya selalu bertambah setiap berubah wujud', sambil melihat Tusk dan nahkoda 'Mereka juga tidak sanggup melawan orang ini' lalu kembali menatap Mishima 'Apa yang harus aku lakukan?' pikir kakek Tou. "Hei!" memanggil kakek Tou "Apa yang kalian lakukan sudah selesai?" tanya Mishima. Kakek Tou tidak menjawab, bahkan Tusk dan si nahkoda pun diam. "Jika jawaban kalian seperti ini" sambil bersiap untuk menyerang "Pada giliranku ini, akan kuakhiri kalian semua" lanjut Mishima dengan tegas
"Fire Line!" jurus tipe api yang berbentuk seperti benang meluncur menuju Mishima. Sayang, serangan yang diluncurkan kakek Tou itu meleset dari target yang dia incar tapi melukai wajah sebelah kiri Mishima walau hanya goresan kecil. Dengan cepat, sang nahkoda dan Tusk menyingkir ke arah yang berlawanan. "Ternyata, kau masih ingin bermain-main denganku ya kek?". "Mengapa tidak?" sambil bersiap mengeluarkan jurus yang sama, tapi api yang keluar lebih banyak. "Fire Straights!". Dengan cepat Mishima memutar kapaknya. Tak tinggal diam, sang nahkoda mulai menyerang pula dengan berlari dan menendang, begitu pula dengan Tusk yang juga mulai ikut menyerang. "Ice Arrow!" jurus tipe es yang dikeluarkan Tusk langsung mengarah ke Mishima. Jurus ini hampir sama dengan hujan es, hanya saja muncul hanya sekali. "Itu dia" Sang nahkoda sudah menentukan sasaran tendangannya. Ketika menendang, bersamaan dengan jurus Ice Arrow, kaki sang nahkoda tertangkap. Begitu pula jurus Ice Arrow yang tiba-tiba juga lenyap. "Kalian pikir aku hanya punya 2 tangan?" kata Mishima sambil tersenyum "Kalian salah". Tak disangka, 2 tangan tambahan muncul tiba-tiba dari bawah tangan utama masing-masing. Tangan kirinya memegang kaki nahkoda dan tangan kanannya menahan serangan Tusk, begitu pula tangan-tangan utamanya memutar kapak untuk menangkis serangan kakek Tou.
Diputar dengan tangan kiri Mishima dan dilempar ke arah tiang besi membuat si nahkoda merintih. "Auuww..." sambil memegang punggungnya "Monster macam apa dia ini?". Sekilas, Mishima terlihat seperti Centaurus biasa, memiliki badan dan kaki kuda serta setengah tubuhnya bagian atas sebagai pengganti kepala kuda tersebut. "Apa ini sudah selesai?" kata Mishima dengan nada tenang dan sedikit garang. Mishima memandang sekelilingnya. Si nahkoda yang masih terluka berusaha untuk berdiri, Tusk masih diam dan belum percaya akan perubahan Mishima dan memandangnya dengan tatapan ketidakpercayaan dan kesal, sementara kakek Tou terlihat begitu tenang meski dirinya masih berpikir keras. 'Apa-apaan orang ini?', 'Hawa kehadirannya selalu tak terkira, kekuatannya selalu bertambah setiap berubah wujud', sambil melihat Tusk dan nahkoda 'Mereka juga tidak sanggup melawan orang ini' lalu kembali menatap Mishima 'Apa yang harus aku lakukan?' pikir kakek Tou. "Hei!" memanggil kakek Tou "Apa yang kalian lakukan sudah selesai?" tanya Mishima. Kakek Tou tidak menjawab, bahkan Tusk dan si nahkoda pun diam. "Jika jawaban kalian seperti ini" sambil bersiap untuk menyerang "Pada giliranku ini, akan kuakhiri kalian semua" lanjut Mishima dengan tegas
#sementara di hutan dekat desa
'Sial!'. Aron masih terjebak di dalam hutan tak tahu jalan menuju desa. 'Kalau begini, aku tak bisa sampai ke desa'. 'Seandainya ada penunjuk jalan.... eh?' tanpa sengaja Aron menemukan bekas es yang dipakai Tusk, belum mencair sejak dia menyusulnya. Letak jalan es ini tak jauh dari tempat ia melihatnya. Dia langsung menuju ke tempat tersebut. 'Kalau tidak ini...' Aron mencoba mengingat apa yang orang aneh, yang baru saja dia temui, lakukan. 'Ah, jangan-jangan ini.....' tanpa berpikir lagi, Aron mengikuti jalan es yang melewati sejenis tumbuhan merambat yang lebat. 'Sial... aku tak membawa pisau pula' dilihat tangan kanannya 'Kalau gelang ini memang sebuah pedang yang baru aku temukan, akan aku coba'. Dia mencoba berpikir keras sambil memejamkan matanya untuk memanggil pedang tersebut.
'Pedang.... pedang.... aku butuh pedang sekarang, kumohon'. Hanya beberapa detik saja, gelang tersebut bersinar kemerahan terang. Sempat Aron melihat proses gelang itu berubah menjadi sebuah pedang. Ketika sinar itu menghilang, Aron sudah memegang pedang tersebut. Untuk pertama kalinya, dia memegang pedang sungguhan pada saat yang tepat, menurutnya. 'Sepertinya, pedang ini sangat kuat'. Dia mencoba mengayunkan pedang itu ke arah depan. Seketika, semua tumbuhan merambat terbakar habis tanpa sisa. Aron kaget setengah mati 'Ini di luar nalarku... baru kali ini aku menemukan pedang seperti ini'. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung berlari mengikuti jalan es yang menuju ke desa. 'Tunggu aku, kek'
#kembali ke desa Tsuchiko
Sekarang, keadaan mulai berubah. Si nahkoda sudah tak dapat berdiri bertarung. Begitu pula Tusk yang baru saja dihajar dan terkapar tak jauh dari Mishima berdiri. Sementara itu, kakek Tou masih tetap berdiri walau sudah banyak luka yang dia terima. Meski tak terlalu banyak, karena umurnya, dia seperti sudah tak dapat kembali bertarung. "Sekarang, apa yang akan kau lakukan kek?" tanya Mishima dengan nada tenang bercampur seram. "Kalau aku sarankan, lebih baik kau menyerah dan ikut kami ke istana untuk bertemu tuan Kuroki" tawar Mishima. "Kau menawari aku seperti itu?" tanya kakek Tou "Lebih baik aku membunuhmu dulu daripada melakukan itu". "Oh, keras kepala juga kau kek" jawab Mishima sambil tersenyum sinis. "Akan kulayani kemauanmu". Kakek Tou sudah bersiap untuk menahan serangan, walau kakinya masih bergetar menahan badannya yan penuh luka. Mishima menggunakan kecepatan kilatnya, dan kembali menghilang. 'pikir... ada di mana dia sekarang?' kakek Tou melihat sekelilingnya 'hawanya susah untuk dilacak, apalagi kekuatan orang ini ternyata terlalu kuat bagiku'
Dia melihat-lihat sekelilingnya lagi untuk berjaga 'Kuda? memang tubuhnya kuda tapi... Tunggu sebentar, kalau tidak salah kuda itu...' kakek Tou melihat ke arah timur desa. 'Pasti dia akan muncul di sini'. "Ternyata pikiranmu pendek ya kek" kata Mishima yang muncul dari arah berlawanan dan sudah siap akan menebas kakek Tou. Begitu mulai menebas, kakek Tou langsung menghindar secepat yang ia bisa. "Sekarang... ng" kakek Tou sempat kaget karena Mishima tak ada di belakangnya. 'Di mana dia?' dia menoleh ke kiri kanan. "Masih mencari diriku?" tersentak kakek Tou akan suara itu. Mishima langsung memukulnya dari arah kanan dengan 2 tangan kanannya. Meski kakek Tou sudah cepat menahan serangan itu dengan kedua tangannya, dia tetap terlempar jauh hingga menabrak patung yang menjadi lambang sekaligus dewa pelindung desa. "Ternyata patung itu kuat ya kek" kata Mishima dengan nada menghina, sementara kakek Tou masih terkapar di dekat patung itu.
"Ini tawaran terakhirku kek" kata Mishima sambil menodongkan kapaknya dengan kedua tangan kirinya. "Aku... tetap akan... melindungi.... desa ini... walau nyawa... jadi taruhannya" kata kakek Tou dengan nafas tersengal-sengal sambil menahan lukanya. "Tidak berubah ya?" tangan kanan Mishima mengambil 1 kapak di salah tangan kirinya "Akan aku turuti permintaanmu" sambil bersiap menebas dengan kedua kapaknya. "KAKEEEK" terdengar teriakan bersamaan dengan angin yang berasal dari tebasan Aron dan dapat mendorong Mishima untuk menjauhi kakek Tou. Dengan lompatan memutar ke depan jauh, dia mendarat tepat di depan kakek Tou.