Di pagi yang cerah yang akan diwarnai dengan warna merah darah.
"Mengapa kakek tidak memberitahuku soal kekuatan kakek? Bukankah kakek bisa mengajarkannya padaku?" tanya Aron. "Maaf Aron, kakek tidak mau ada yang menyakitimu" kata kakek Tou. Saat ini semua warga desa hanya bisa berdoa dan beberapa dari mereka sudah ada yang membereskan barang-barang untuk pindah sebelah, kecuali empat orang yang siap mempertaruhkan nyawa demi desa mereka. "Apa kakek tidak menolak?" tanya Aron. "Sebelum ada yang memotong urat nadiku, aku akan berjuang demi desa ini". "Tapi kek, mereka......" lanjut Aron. Kakek Tou memegang pundak Aron dan memandangnya. "Aron, sebanyak apapun mereka yang datang, kakek akan habisi semua. Demi desa ini Aron, demi kita juga. Aku akan menugaskanmu untuk membantu mereka yang mengungsi. Tugasmu hanya itu, mengerti?". "Tapi kek, aku juga ingin membantumu perang" minta Aron. "Aku bilang, evakuasi penduduk yang ada. Mengerti tidak?" suaranya agak keras. Aron diam sejenak, belum pernah dia dimarahi seperti ini. "Ya, kek. Aku mengerti". "Bagus kalau begitu" sambil membawa tongkat berjalannya "Oya" menoleh ke Aron "Setelah ini selesai, ayo kita minum teh di sore nanti". "Ya kek" jawab Aron.
Setelah keluar rumah, kakek Tou sudah ditunggu oleh empat orang. "Hei kek, jangan lama-lama dong. Besiku nanti tidak bisa digunakan" protes paman tukang besi. "Hei hei, jangan begitu pada orang yang lebih tua darimu. Bisa-bisa kau dikutuk nanti." kata sang nahkoda. "Ah, kau juga. Gara-gara kau nanti dia tidak bisa bertarung, bisa kalah kalau tak ada dia" jawab bibi penjual bunga. "Hah, apa itu benar kawan?" tanya pedagang buah. "Sudah kubilang, cakar besiku bisa mengalahkan semua penduduk yang ada, mungkin pasukan yang nanti datang masuk dalam hitungan" jawab si tukang besi. "Sudah sudah, dari tadi kalian ribut terus" sela kakek Tou. "Apa kalian sudah siap?". "Siap" jawab mereka serentak. "Baik. kalau begitu, Ayo berangkat". Dan mereka pun langsung menuju ke tengah desa.
'Aku akan menugaskanmu untuk membantu mereka yang mengungsi. Tugasmu hanya itu, mengerti?' perintah kakeknya masih terbayang di kepala Aron. 'Aku bilang, evakuasi penduduk yang ada. Mengerti tidak?' walaupun berat, tapi Aron tetap menuju penduduk yang akan pindah melewati pintu keluar desa yang berada di belakang desa. "Ayo semua orang! Jangan sampai ada yang tertinggal. Cepat bawa barang kalian dan amankan diri kalian". 'Aku akan berusaha semampuku' sambil memandang desa 'Kakek, berjuanglah'. "Bagaimana dengan dirimu, nak? Kau tidak ikut dengan kami?" tanya salah satu penduduk. "Aku akan selamatkan yang bisa aku selamatkan. Lebih kalian cepat pergi dari sini" perintah Aron. "Tapi, bagaimana denganmu?" tanyanya lagi. "Sudahlah, cepatlah pergi" kata Aron sambil mendorong paksa. Setelah menurutnya selesai, dia masih heran. Lalu, Aron bertanya kepada salah penduduk yang akan pergi. "Maaf, apa kalian tahu di mana Ach dan Lee?". "Bukankah mereka mengajakmu pergi ke markas?" jawabnya. 'Sial. Apa yang mereka pikirkan?' Aron langsung berlari menuju markasnya yang lumayan jauh dari gerbang belakang desa.
Sesampainya di markas, Aron kaget melihat mereka sudah pingsan berlumuran darah. "Hei Ach, apa yang terjadi? Cepat jawab kawan" teriak Ach. "Maaf, Aron" kata Lee terhuyun-huyun. "Ada apa ini? Siapa yang melakukannya?" teriak Aron sambil memegang Lee yang jatuh. "Mereka terlalu banyak...... kami.... tidak bisa...... mencegah mereka" jawab Lee tersengal-sengal. "Sudah, diam saja kau" sambil menggendong mereka berdua "Aku akan membawa kalian ke tempat rahasiaku yang aman" kata Aron sambil menangis. "Jadi....., kau.... berbohong.... ya?" tanya Lee. "Sudah, jangan berisik" katanya sambil menangis.
Sesampainya di mulut goa, penjaga goa sudah menunggu di depan goa. "Sudah kuduga kau akan ke sini. Cepat bawa mereka masuk". Setelah masuk goa, Aron meletakkan Ach dan Lee di sebuah tempat tidur yang terbuat dari batu. 'Ah, aku kira seperti apa. Ternyata hanya seperti ini. Tapi, kenapa orang ini seperti merahasiakan sesuatu?' pikir Aron. Penjaga goa menggunakan heal magic yang mana memberikan perisai yang menyembuhkan seseorang dalam waktu yang cukup lama. "Berapa lama mereka akan sembuh?" tanya Aron. "Jika tidak ada kendala, 36 jam dari sekarang atau 60 jam paling lama. Kalau luka seperti ini, aku tidak tahu kapan akan sembuh,". "tapi, aku bisa perkirakan dalam 48 jam mereka akan baik-baik saja". "Apa tidak ada yang bisa mempercepat penyembuhan?" tanya Aron. "Maaf, hanya ini yang aku bisa" jawab penjaga goa. "Sial"
"Katanya, teman cucumu tewas ya, kek?" tanya si tukang besi. Mereka berlima sudah siap di alun-alun desa, yang terletak tepat di tengah desa tsuchiko. Hijau, sepi, dan indah adalah kelebihan dari alun-alun ini. "Belum. Masih belum, mereka sudah diselamatkan" jawab kakek Tou. "Oleh siapa?" tanya si nahkoda. "Dibawa cucuku ke suatu tempat dan diselamatkan oleh teman lamaku". "Mmm..... beruntung juga kau ya, kek". "Ah, mereka datang" ujar si penjual bunga. Mereka, prajurit Chesspada, datang seperti pasukan yang akan melawan ratusan bahkan ribuan musuh walaupun pada nyatanya hanya*melawan 5 orang penduduk desa. Dipimpin oleh Mishima, anggota ke-16 chesspada berpangkat warrior. Badannya kekar, berjenggot cukup lebat, bermuka seram, dan membawa kapak besar, "Jadi, hanya kalian berlima yang maju ya?" katanya dengan sedikit serak, itulah ciri khas suaranya.
"Memang kenapa? Apa kau takut bocah tua?" balas sang nahkoda yang sedikit lebih tua dari Mishima. "Hmm..... Sombong sekali kau, lebih baik kalian pergi sebelum nyawa kalian akan kuberikan pada tuan kami". "Lebih baik begitu daripada menyerahkan diri" kata pedagan buah dengan tegas. "Boleh juga kalian, kuakui keberanian kalian cukup besar, tapi.." kata Mishima sambil menarik kapaknya "Kalian tidak apa-apanya di hadapanku" lanjutnya sambil teriak "Serang!". "Ou ou" teriak pasukannya sambil berlari menyerang. "Nah, kita hanya berlima sedangkan mereka tak terhitung jumlahnya, jadi apa kalian semua sudah siap?" tanya kakek Tou yang sedang membuka segel tongkatnya untuk diubah menjadi pedang. Mereka sudah menyiapkan senjata mereka dari tadi dengan posisi siap bertahan. "Kalau begitu, mari kita mulai".
"Memang kenapa? Apa kau takut bocah tua?" balas sang nahkoda yang sedikit lebih tua dari Mishima. "Hmm..... Sombong sekali kau, lebih baik kalian pergi sebelum nyawa kalian akan kuberikan pada tuan kami". "Lebih baik begitu daripada menyerahkan diri" kata pedagan buah dengan tegas. "Boleh juga kalian, kuakui keberanian kalian cukup besar, tapi.." kata Mishima sambil menarik kapaknya "Kalian tidak apa-apanya di hadapanku" lanjutnya sambil teriak "Serang!". "Ou ou" teriak pasukannya sambil berlari menyerang. "Nah, kita hanya berlima sedangkan mereka tak terhitung jumlahnya, jadi apa kalian semua sudah siap?" tanya kakek Tou yang sedang membuka segel tongkatnya untuk diubah menjadi pedang. Mereka sudah menyiapkan senjata mereka dari tadi dengan posisi siap bertahan. "Kalau begitu, mari kita mulai".
Sementara itu, Aron menunggu teman-temannya di dalam goa dan melihat penjaga goa sedang berada di luar. "Hei, pak tua, apa yang kau lakukan di sini?". "Hm.., berani sekali kau bicara seperti itu kepadaku. Aku hanya memandang desa yang sekarang sedang ramai" katanya tanpa melirik Aron. "Sudah dimulai ya. Apa yang bisa kulakukan sekarang?" katanya sambil menyandarkan badannya di mulut goa. Terdengar suara ledakan dari tengah desa."Kau ingin tahu? Awasi teman-temanmu saja di dalam, mungkin terjadi sesuatu". "Aku tak bisa berdiam diri saja di sini, aku ingin ikut berperang bersama kakekku. Aku juga ingin membantu mereka sebisaku" kata Aron sedikit kesal. "Kau ingin lakukan sesuatu?". "Ya, tentu". "Baik, kalau begitu tunggu di sini dan jangan ke mana-mana" katanya sambil berdiri. Penjaga goa tersebut mengarahkan tangan kirinya ke batu yang dia duduki, seperti melepas segel. Ternyata, batu tersebut mencair dan di dalamnya terdapat kapak seperti milik Tuskar(mainkan: Warcraft new version).
"Pak tua, kau mau ke mana?". "Aku?" sambil menoleh sebentar ke Aron lalu berbalik lagi "Aku juga ingin sekali berpesta di sana dan tidak mau duduk diam di sini" sambil bersiap untuk loncat turun. "Hei, tunggu, itu kan..." teriak Aron keheranan. "Kau mau bilang ini daerah gunung dan aku harus melewati jalan setapak? Itu tak mungkin" katanya saat masih melayang. "Tapi.....", belum selesai bicara, penjaga goa sudah meluncur ke bawah seperti sedang bermain ice skating. "Hm..., jalan di lereng ini kurang bersahabat". Dia mengarahkan kapaknya ke arah lereng yang akan dilewatinya "ICE ROAD". Seketika, lereng yang dilewatinya berubah menjadi es. "Yahuuu. Ayo, kita tidak boleh datang terlambat" teriaknya dengan girang sambil mengarah ke desa. 'Ya ampun, apa yang terjadi dengan penduduk desa ini?' pikir Aron menuju ke dalam sambil menggaruk kepalanya.
"Pak tua, kau mau ke mana?". "Aku?" sambil menoleh sebentar ke Aron lalu berbalik lagi "Aku juga ingin sekali berpesta di sana dan tidak mau duduk diam di sini" sambil bersiap untuk loncat turun. "Hei, tunggu, itu kan..." teriak Aron keheranan. "Kau mau bilang ini daerah gunung dan aku harus melewati jalan setapak? Itu tak mungkin" katanya saat masih melayang. "Tapi.....", belum selesai bicara, penjaga goa sudah meluncur ke bawah seperti sedang bermain ice skating. "Hm..., jalan di lereng ini kurang bersahabat". Dia mengarahkan kapaknya ke arah lereng yang akan dilewatinya "ICE ROAD". Seketika, lereng yang dilewatinya berubah menjadi es. "Yahuuu. Ayo, kita tidak boleh datang terlambat" teriaknya dengan girang sambil mengarah ke desa. 'Ya ampun, apa yang terjadi dengan penduduk desa ini?' pikir Aron menuju ke dalam sambil menggaruk kepalanya.
'Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku tak bisa apa-apa. Aku harus bagaimana?' pikir Aron sambil duduk di dekat 2 temannya. 'Sial, kalau begini aku bisa bosan di sini. Seandainya saja aku punya kekuatan seperti kakek, aku tidak akan di sini' pikirnya sambil bersandar di tembok. "Sialan" teriak Aron sambil memukul batu goa. "Aduh duh duh duh" rintih Aron. Dia tanpa sengaja menghancurkan sebagian goa, dan dia merasa seperti melihat sesuatu di reruntuhan tersebut, 'Ng, apa itu?'. Dia mengambilnya dengan hati-hati, lalu diletakkannya di sebuah meja batu besar, kemudian dibersihkan kotak aneh tersebut. Sebuah kotak hitam seperti brankas berbentuk balok yang ukurannya dapat menyimpan sebuah pedang, tidak terlalu berat karena bahan kotak ini adalah kayu dari hutan sekitar desa. Di kotak tersebut terdapat lambang kepala serigala merah. 'Ah, pasti pak tua itu tidak mengetahui kalau ada harta yang tersembunyi di sini' pikirnya bangga. Diraba-raba penutup kotak tersebut dan klik... kotakpun terbuka sendiri.
Dibukanya perlahan dan ada perasaan bangga bercampur heran. Sebuah pedang yang terlihat biasa, memiliki gagang yang cukup besar dan terdapat kepala serigala diantara besi pedang dengan gagang pedang. Diambilnya pedang tersebut, Aron merasa sangat nyaman karena pedang tersebut tidak terlalu berat untuk dibawa Aron. 'Wow, pedang yang hebat, tapi di mana sarungnya?' pikirnya
Dibukanya perlahan dan ada perasaan bangga bercampur heran. Sebuah pedang yang terlihat biasa, memiliki gagang yang cukup besar dan terdapat kepala serigala diantara besi pedang dengan gagang pedang. Diambilnya pedang tersebut, Aron merasa sangat nyaman karena pedang tersebut tidak terlalu berat untuk dibawa Aron. 'Wow, pedang yang hebat, tapi di mana sarungnya?' pikirnya
Namun, terjadi sesuatu yang tidak diketahui oleh Aron secara tiba-tiba dan tanpa disadarinya