"Apa yang kau lakukan di sini, Aron?" tanya kakek Tou. "Kek, kau tak apa-apa kan?" Aron kembali bertanya. "Untuk apa kau di sini? Selamatkan dirimu saja" perintah kakeknya. "Mengapa kakek selalu begitu? Mengapa selalu kakek yang melindungi orang-orang?" dia berputar melihat kakek Tou "Aku juga ingin melindungi semua orang, kek". "Kau masih belum waktunya Aron". "Tapi aku juga ingin, kek, aku ingin seperti kakek yang melindungi nrang-orang". Kakek Tou menatap mata Aron yang penuh pengharapan dan keyakinan. "Apa kau yakin akan melakukan ini?" tanya kakek Tou tegas "Ini bukan seperti yang kau hadapi bersama teman-temanmu". "Aku selalu siap kek". "Baguslah kalau begitu" sambil melepas 2 arm di jemari kirinya "Ini speed dan fire arm, pergunakan dengan baik" lalu memberikannya pada Aron. "Kakek sendiri bagaimana?". "Aku? Akan aku pikirkan lagi".
'Ah, itu Aron' si nahkoda melihat Aron berada di dekat kakek Tou. 'Ternyata dia memang selamat, tapi yang dipegang itu, pedang itu.....' dia sempat kaget melihat pedang itu ada di tangan Aron. 'Jangan-jangan pedang itu yang memilihnya' pikir si nahkoda. "Hei, orang bodoh" teriak Aron sambil menodongkan pedangnya ke arah Mishima "Sekarang akulah lawanmu". "Oh, ada pemain pengganti rupanya" jawabnya dengan nada merendahkan "Kalau kau lebih hebat, akan kulayani". "Sombong sekali orang ini" kata Aron. 'Orang ini sepertinya kuat, kakek saja sampai seperti ini' sambil berjalan perlahan menuju Mishima 'Pasti ada cara untuk mengalahkan orang besar ini' pikir Aron. "Apa yang ingin kau lakukan, nak?" tanya Mishima halus. "Kau ini setengah kuda kan?". "Memang ada masalah pada dirimu, nak?". "Bukan aku yang mendapat masalah, tapi kau". Tanpa disangka, Aron langsung menebas Mishima tanpa diketahuinya. "Kurang ajar, kau.." seketika itu Aron menghilang dari hadapan Mishima. "Hei, bocah sialan! Keluar kau!"
Tanpa disangka pula, Aron muncul di belakang Mishima dan mulai menebas lagi, "Kembali, bocah ingusan!" ketika membalikkan badan, Aron sudah menghilang. Aron muncul dari berbagai arah dan terus menebas Mishima. Sebaliknya, Mishima menjadi kwalahan menghadapi kekuatan baru Aron. Tak jauh, kakek Tou melihat dengan kagum bercampur heran. 'Apa ini berkat pedang yang ia dapatkan di goa itu?' pikir kakek Tou 'Apa yang dilakukan Tusk selama ini?'. "Ugh..." Tusk mencoba melihat pertandingan yang sedang terjadi. 'Ah, anak itu. Ternyata dia bisa mengendalikan pedang tersebut'. 'Aku tak boleh diam saja'. Tusk meluruskan tangan kirinya dan membuka telapak tangannya 'ICE BLOCK!'. Seketika itu, semua orang yang terluka terselimuti oleh es, termasuk si pandai besi, penjual bunga, pedagang buah, nahkoda, dan kakek Tou. Lalu, dia menempelkan telapak tangannya di dadanya 'HEAL!'.
Selama pertarungan berlangsung, Aron mendominasi dalam menyerang. Serangannya banyak sekali yang mengena walau yang lebih banyak berupa luka gores. Keadaan ini berbeda dengan kekuatan Mishima yang jauh lebih besar dari Aron. Kakek Tou sempat kaget melihat cara bertarung Aron. 'di mana dia belajar gerakan itu?' sambil melihat ke Tusk 'tidak mungkin dia mereka baru saja bertemu'. 'apa karena pedang serigala itu yang menggerakkannya?' terpikir di benak kakek Tou. Di sisi Aron, dia malah tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena dia sendiri merasa bahwa dia dikendalikan oleh pedangnya sendiri.
Irama pertarungan mulai sedikit berubah. Mishima yang menyadari akan hal ini mencoba menghindari serangan Aron. 'ada apa dengan orang ini? dia seperti tidak sedang menyerang'. Dia mencoba untuk menjauh dari jangkauan serangan Aron, dan berhasil. Kini jaraknya hanya beberapa langkah. "Jika aku melihat, sepertinya itu bukan pedangmu kan?". 'bagaimana dia tahu?' wajah Aron sedikit pucat pasi. "Melihat wajahmu saja aku sudah tahu kemampuanmu sebenarnya" Aron hanya terdiam "Jika sudah begini, waktunya ronde dua". Mishima mulai menyiapkan serangan selanjutnya. Aron berhasil menghindar dari serangan kapaknya, namun terlambat menahan hentakan kaki Mishima yang dapat menghasilkan angin pendorong. 'kalau dia tahu kekuatanku,
Tanpa disangka pula, Aron muncul di belakang Mishima dan mulai menebas lagi, "Kembali, bocah ingusan!" ketika membalikkan badan, Aron sudah menghilang. Aron muncul dari berbagai arah dan terus menebas Mishima. Sebaliknya, Mishima menjadi kwalahan menghadapi kekuatan baru Aron. Tak jauh, kakek Tou melihat dengan kagum bercampur heran. 'Apa ini berkat pedang yang ia dapatkan di goa itu?' pikir kakek Tou 'Apa yang dilakukan Tusk selama ini?'. "Ugh..." Tusk mencoba melihat pertandingan yang sedang terjadi. 'Ah, anak itu. Ternyata dia bisa mengendalikan pedang tersebut'. 'Aku tak boleh diam saja'. Tusk meluruskan tangan kirinya dan membuka telapak tangannya 'ICE BLOCK!'. Seketika itu, semua orang yang terluka terselimuti oleh es, termasuk si pandai besi, penjual bunga, pedagang buah, nahkoda, dan kakek Tou. Lalu, dia menempelkan telapak tangannya di dadanya 'HEAL!'.
Selama pertarungan berlangsung, Aron mendominasi dalam menyerang. Serangannya banyak sekali yang mengena walau yang lebih banyak berupa luka gores. Keadaan ini berbeda dengan kekuatan Mishima yang jauh lebih besar dari Aron. Kakek Tou sempat kaget melihat cara bertarung Aron. 'di mana dia belajar gerakan itu?' sambil melihat ke Tusk 'tidak mungkin dia mereka baru saja bertemu'. 'apa karena pedang serigala itu yang menggerakkannya?' terpikir di benak kakek Tou. Di sisi Aron, dia malah tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena dia sendiri merasa bahwa dia dikendalikan oleh pedangnya sendiri.
Irama pertarungan mulai sedikit berubah. Mishima yang menyadari akan hal ini mencoba menghindari serangan Aron. 'ada apa dengan orang ini? dia seperti tidak sedang menyerang'. Dia mencoba untuk menjauh dari jangkauan serangan Aron, dan berhasil. Kini jaraknya hanya beberapa langkah. "Jika aku melihat, sepertinya itu bukan pedangmu kan?". 'bagaimana dia tahu?' wajah Aron sedikit pucat pasi. "Melihat wajahmu saja aku sudah tahu kemampuanmu sebenarnya" Aron hanya terdiam "Jika sudah begini, waktunya ronde dua". Mishima mulai menyiapkan serangan selanjutnya. Aron berhasil menghindar dari serangan kapaknya, namun terlambat menahan hentakan kaki Mishima yang dapat menghasilkan angin pendorong. 'kalau dia tahu kekuatanku,