Di dalam goa, Aron masih pingsan gara-gara pedang yang baru saja dia dapatkan. Tetapi kemudian, dia sadar dengan keadaan seperti bangun tidur. 'Aduuh..., apa yang terjadi barusan? Ah, kalau tak salah tadi....'. Dia mencoba mengingat kembali apa yang baru saja ia alami, namun setiap mencoba mengingat kepalanya selalu sakit. 'Ah, lupakan saja, yang terpenting sekarang ....' dia mencoba melihat sekitarnya mendapati bahwa pedang yang baru saja ia temukan menghilang.
"Aduh, di mana pedangnya? Padahal.... " dia baru sadar kalau dia memakai sebuah gelang yang berukuran sedang menyerupai bracer(mainkan: Warcraft all version) dan memiliki lambang kepala serigala yang sama persis dengan yang ada di kotak dan pedang yang ia temukan. Dia berfikir bagaimana pedang itu bisa menghilang dan tiba-tiba menemukan gelang yang sudah terpasang di lengan kanannya, dan sempat kaget setelah mendengar suara ledakan yang cukup besar yang berasal dari desa. Sesaat dia memandang 2 temannya yang masih dalam perawatan, lalu menoleh lagi ke arah desa dari dalam goa. 'Maafkan aku teman-teman' sambil berlari menuju keluar goa 'Aku harus melakukan ini' dan sekarang tidak ada yang bisa mencegahnya untuk berperang.
"Aduh, di mana pedangnya? Padahal.... " dia baru sadar kalau dia memakai sebuah gelang yang berukuran sedang menyerupai bracer(mainkan: Warcraft all version) dan memiliki lambang kepala serigala yang sama persis dengan yang ada di kotak dan pedang yang ia temukan. Dia berfikir bagaimana pedang itu bisa menghilang dan tiba-tiba menemukan gelang yang sudah terpasang di lengan kanannya, dan sempat kaget setelah mendengar suara ledakan yang cukup besar yang berasal dari desa. Sesaat dia memandang 2 temannya yang masih dalam perawatan, lalu menoleh lagi ke arah desa dari dalam goa. 'Maafkan aku teman-teman' sambil berlari menuju keluar goa 'Aku harus melakukan ini' dan sekarang tidak ada yang bisa mencegahnya untuk berperang.
#Sementara itu di desa Tsuchiko#
Perang masih berlanjut, hanya saja semua korban yang tewas adalah para prajurit Chesspada. Kelima pahlawan desa masih sanggup untuk mempertahankan desa dari kehancuran, walaupun begitu mereka tidak bisa mempertahankan tempat tinggal para penduduk desa yang hancur dan terbakar akibat serangan musuh. "Hei, kapan mereka akan berhenti menyerang?" teriak si pedagang buah. "Jangan bertanya disaat seperti ini, kawan" sambil menyerang dan mulai bersandar dengan si pedagang. "Saat ini yang harus kita pikirkan adalah kapan perang ini akan berakhir" lanjut si nahkoda. Sementara itu di bagian desa Tsuchiko yang lain, si penjual bunga dan tukang besi masih bertarung walaupun mereka terlihat sedikit kwalahan menghadapi para pasukan. "Hyaat!" teriak penjual bunga 'sialan, mengapa wanita sepertiku harus berada di saat keadaan seperti ini? Setelah ini selesai, aku mau cuti saja'. "Apa yang kau pikirkan di saat seperti ini?" tanya tukang besi. "Ah, tak ada sama sekali".
Di satu sisi, kakek Tou berhadapan langsung dengan Mishima. "Mengapa kau tidak menyerah saja, Pak tua?". "Untuk apa aku menyerah? Kau sendiri mengapa ingin sekali mengambil desa ini?". "Aku hanya menjalankan perintah tuanku, jadi kau tidak berhak tahu". "Hmm.... jd begitu ya" sambil menghunuskan pedangnya ke arah Mishima "Lebih baik aku membunuhmu daripada menyerahkan desa ini". "Jadi, itu pilihanmu kakek tua?" jawab Mishima. "Aku ini belum tua bodoh, hanya saja penampilanku seperti ini" balas kakek Tou dengan nada sedikit pelan dan berat. "Masa bodoh denganmu kek, yang jelas sekarang..." sambil mengayunkan kapaknya "Aku sudah muak denganmu". "Aku sudah bilang tadi.." sambil bersiap menangkis serangan Mishima "penampilanku yang terlihat tua".
Walaupun kakek Tou berhasil menangkis serangan Mishima, ledakan angin yang terjadi cukup kuat sehingga merobohkan semua ketapel raksasa yang dibawa Mishima untuk menghancurkan desa ini. "Kau hebat juga kek bisa menangkis serangan hebatku ini" kata Mishima. "Ah, ini sudah biasa aku lakukan. Yang seperti ini tak ada apa-apanya". Setelah itu, mereka sama-sama terlempar cukup jauh, namun mereka masih berdiri untuk bertarung kembali. 'Dia sepertinya kuat sekali' pikir kakek Tou yang saat itu pula Mishima berlari untuk menyerang lagi 'Orang ini berbeda sekali dengan orang-orang yang sudah aku hadapi. Apa karena dia anggota inti Chesspada?'. Mishima sudah mengayunkan kapaknya ke arah kakek Tou. Beruntung, Kakek Tou masih bisa menghindar. "Apa yang pikirkan tadi, Pak tua? Apa kau belum siap menghadapi kematianmu hari ini?" teriak Mishima.
Di satu sisi, kakek Tou berhadapan langsung dengan Mishima. "Mengapa kau tidak menyerah saja, Pak tua?". "Untuk apa aku menyerah? Kau sendiri mengapa ingin sekali mengambil desa ini?". "Aku hanya menjalankan perintah tuanku, jadi kau tidak berhak tahu". "Hmm.... jd begitu ya" sambil menghunuskan pedangnya ke arah Mishima "Lebih baik aku membunuhmu daripada menyerahkan desa ini". "Jadi, itu pilihanmu kakek tua?" jawab Mishima. "Aku ini belum tua bodoh, hanya saja penampilanku seperti ini" balas kakek Tou dengan nada sedikit pelan dan berat. "Masa bodoh denganmu kek, yang jelas sekarang..." sambil mengayunkan kapaknya "Aku sudah muak denganmu". "Aku sudah bilang tadi.." sambil bersiap menangkis serangan Mishima "penampilanku yang terlihat tua".
Walaupun kakek Tou berhasil menangkis serangan Mishima, ledakan angin yang terjadi cukup kuat sehingga merobohkan semua ketapel raksasa yang dibawa Mishima untuk menghancurkan desa ini. "Kau hebat juga kek bisa menangkis serangan hebatku ini" kata Mishima. "Ah, ini sudah biasa aku lakukan. Yang seperti ini tak ada apa-apanya". Setelah itu, mereka sama-sama terlempar cukup jauh, namun mereka masih berdiri untuk bertarung kembali. 'Dia sepertinya kuat sekali' pikir kakek Tou yang saat itu pula Mishima berlari untuk menyerang lagi 'Orang ini berbeda sekali dengan orang-orang yang sudah aku hadapi. Apa karena dia anggota inti Chesspada?'. Mishima sudah mengayunkan kapaknya ke arah kakek Tou. Beruntung, Kakek Tou masih bisa menghindar. "Apa yang pikirkan tadi, Pak tua? Apa kau belum siap menghadapi kematianmu hari ini?" teriak Mishima.
Secara sekilas, Mishima memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dari kakek Tou, kekar, dan cukup kuat untuk menghadapi 20 orang pasukan sekaligus. Walaupun begitu, kakek Tou masih bisa mengimbanginya dengan tubuh setinggi anak berumur 17 tahun. Kakek Tou berhasil menghindar dari serangan barusan, namun Mishima terus menyerang kakek Tou dengan berlari. 'Kalau begini, aku tidak bisa melawannya dari jarak dekat' pikir kakek Tou sambil terus menghindari serangan bertubi-tubi Mishima. 'Kecepatan, kekuatan, dan serangannya sama besar. Aku akan coba beberapa cara untuk mengalahkannya' pikirannya masih mencoba berkonsentrasi sambil menghindari serangan Mishima. Tiba-tiba saja, kakek Tou langsung melompat tinggi. 'Hanya ini yang bisa kulakukan......' sambil melihat ke bawah 'Ng... di mana dia?'. "Apa hanya kau saja yang bisa melompat tinggi?" tanya Mishima yang tiba-tiba sudah berada di belakang kakek Tou dan bersiap untuk memukul. ' Gawat'. Mishima memukul keras kakek Tou yang membuat dia jatuh seperti meteor jatuh ke bumi. 'Ugh.... hawa kehadirannya tidak aku ketahui. Bagaimana dia melakukan itu?' dan pada saat itu pula Mishima berputar di atas sambil memegang kapak di atas kepalanya.
Kakek mencoba untuk berdiri, dan berhasil walaupun kepalanya berdarah dan hampir semua badannya kesakitan gara-gara jatuh barusan. 'Tak kusangka ada lawan yang seperti ini, aku melawannya dengan serius' sambil melihat ke atas. "Terimalah ini kakek tua" kata Mishima sambil berputar di atas "Rolling Axe!" dan jatuh menuju kakek Tou yang berada di bawah. 'Cepat sekali dia' dan Kakek Tou langsung menghindari serangan Mishima. Kakek Tou merasa lega, namun dia salah. Dia merasa Mishima terjebak di lubang bekas kakek Tou jatuh, tetapi Mishima loncat ke luar dan mulai berputar kembali menuju kakek Tou. Kakek Tou menangkis dengan pedangnya, namun dia sedikit demi sedikit terdorong ke belakang. 'Sial, dia terlalu cepat' dan kakek Tou membiarkan Mishima menggelinding dengan menghindar ke samping. Mishima menabrak salah satu rumah penduduk hingga rumah tersebut hancur tanpa sisa.
Dia bangun dan berkata, "Bagus juga kau bisa menghindari seranganku ini" sambil bersiap ke jurus lainnya "Kau tidak akan bisa lolos dari seranganku yang ini" teriaknya. Kali ini dia mulai dengan mengangkat kaki kanan ke atas, lurus. Lalu, dia memiringkan badannya ke kiri dan dia memegang kapaknya menyamping. "Bersiaplah kakek tua!" sambil sedikit menarik badannya ke belakang "Ring Axe!!". Melihat Mishima yang berputar lebih cepat dari jurus sebelumnya, kakek Tou hanya melihatnya dengan tenang dan berkata, "Inikah jurusmu selanjutnya?" dia juga langsung menyiapkan jurus pedangnya "Menurut, ini lebih buruk dari sebelumnya". Badan kakek Tou turun dengan kaki kanan di depan dan pedang di tangan kanannya dihadapkan ke bawah layaknya jurus kungfu. "Terimalah ini!" sambil menurunkan sedikit lagi badannya "Teknik Pedang no. 17" sambil melihat ke arah Mishima yang masih berputar menujunya "Tatsu Ushi!".
Seketika itu, Kakek Tou sudah berada di belakang Mishima yang masih berputar, dan saat itu pula Mishima terkena serangan pedang kakek Tou di bagian perutnya, 3 sayatan. "Jurusmu itu pasti ada titik celahnya dan baru saja kau membukanya" ujar kakek Tou ketika Mishima terguling sakit dan menabrak rumah penduduk. "Jadi, kau ingin bermain serius denganku ya kek?" katanya sambil berdiri dengan bantuan kapaknya dan memegang perutnya. "Apa seranganku tadi terlalu keras kepadamu anak muda?". "Yang begini aku sudah biasa" katanya sedikit tersengal-sengal. 'Nafas orang ini cepat sekali, tak kusangka ada orang yang seperti ini' pikir kakek Tou. "Daripada kita bertarung seperti ini, bagaimana jika kita berunding saja kakek tua?" tawar Mishima. "Apa yang mau kau tawarkan?" tanya kakek Tou dengan sedikit hati-hati. "Begini, aku ingin kau bergabung dengan Chesspada sebagai anggota. Bagaimana?". "Hmm... Coba kupikir sejenak" kata kakek Tou sambil menyilangkan tangannya "Mungkin aku akan menolak". "Apa yang membu..." belum selesai bicara, kakek Tou menyela "Tapi, ada satu syarat jika kau ingin merekrutku jadi anggota". "Apa itu?".
"Jadikan aku ketua Chesspada, maka kau boleh mengambil desa ini" katanya sambil menancapkan pedangnya ke tanah. "Apa yang kau bilang?" teriak Mishima. "Ya, itu jabatan yang aku inginkan di Chesspada. Jika tidak mau, ya sudah" kata kakek Tou sambil menoleh ke arah yang lain. "Kurang ajar kau kakek tua" sambil mengangkat kapaknya dan mengarahkan ke depan "Serang dia, pasukan andalanku!" teriaknya. Seketika itu dari dalam tanah, muncul beberapa pasukan berseragam seperti kaisar Cina berwarna coklat membawa Nunchaku dari berbagai arah. Wajah mereka ditutup oleh kain hitam layaknya ninja. "Serang!" teriak Mishima. Mereka langsung loncat ke arah kakek Tou. Jumlah mereka diperkirakan ratusan orang, hampir dua kali lipat dari pasukan yang dibawa Mishima saat perjalanan. 'Aku tidak bisa mengalahkan mereka semua' sambil mencabut kembali pedangnya 'Aku harus melakukan sesuatu'. Tiba-tiba saja "Ice ball!".
Sebuah bola es berukuran bola tenis berada tepat di atas kakek Tou. "Ternyata benar ulahmu ya, Tusk" kata kakek Tou menoleh ke sebelah kanan. Bola itu menyebabkan semua menjadi lambat, tergantung dari pengguna jurus tersebut. "Lama tak jumpa Tou. Kau semakin tua saja" kata Tusk sambil berjalan menuju Kakek Tou. "Huh, selalu itu yang kau katakan ketika bertemu denganku". "Hei hei, itu kan sudah biasa. Jangan kau anggap serius terus, aku tak sanggup melihatmu mati di sini". "Hng.... Bisakah kita menghentikan pembicaraan kita sebentar?" tawar kakek Tou. "Boleh juga" jawab Tusk "Sepertinya, mereka terlalu banyak untukmu, kek. Butuh bantuan?" sambil membelakangi kakek Tou. "Itu yang aku perlukan" kakek Tou juga membelakangi Tusk dengan siap menebas. 'Sial... Siapa dia sebenarnya? Mengapa aku juga tak bisa bergerak?' pikir Mishima.
"Sudah siap?" tanya kakek Tou. "Selalu" kata Tusk dengan tenang. Secara bersamaan, mereka berdua menebas semua pasukan yang baru saja ingin menyerang
Kakek mencoba untuk berdiri, dan berhasil walaupun kepalanya berdarah dan hampir semua badannya kesakitan gara-gara jatuh barusan. 'Tak kusangka ada lawan yang seperti ini, aku melawannya dengan serius' sambil melihat ke atas. "Terimalah ini kakek tua" kata Mishima sambil berputar di atas "Rolling Axe!" dan jatuh menuju kakek Tou yang berada di bawah. 'Cepat sekali dia' dan Kakek Tou langsung menghindari serangan Mishima. Kakek Tou merasa lega, namun dia salah. Dia merasa Mishima terjebak di lubang bekas kakek Tou jatuh, tetapi Mishima loncat ke luar dan mulai berputar kembali menuju kakek Tou. Kakek Tou menangkis dengan pedangnya, namun dia sedikit demi sedikit terdorong ke belakang. 'Sial, dia terlalu cepat' dan kakek Tou membiarkan Mishima menggelinding dengan menghindar ke samping. Mishima menabrak salah satu rumah penduduk hingga rumah tersebut hancur tanpa sisa.
Dia bangun dan berkata, "Bagus juga kau bisa menghindari seranganku ini" sambil bersiap ke jurus lainnya "Kau tidak akan bisa lolos dari seranganku yang ini" teriaknya. Kali ini dia mulai dengan mengangkat kaki kanan ke atas, lurus. Lalu, dia memiringkan badannya ke kiri dan dia memegang kapaknya menyamping. "Bersiaplah kakek tua!" sambil sedikit menarik badannya ke belakang "Ring Axe!!". Melihat Mishima yang berputar lebih cepat dari jurus sebelumnya, kakek Tou hanya melihatnya dengan tenang dan berkata, "Inikah jurusmu selanjutnya?" dia juga langsung menyiapkan jurus pedangnya "Menurut, ini lebih buruk dari sebelumnya". Badan kakek Tou turun dengan kaki kanan di depan dan pedang di tangan kanannya dihadapkan ke bawah layaknya jurus kungfu. "Terimalah ini!" sambil menurunkan sedikit lagi badannya "Teknik Pedang no. 17" sambil melihat ke arah Mishima yang masih berputar menujunya "Tatsu Ushi!".
Seketika itu, Kakek Tou sudah berada di belakang Mishima yang masih berputar, dan saat itu pula Mishima terkena serangan pedang kakek Tou di bagian perutnya, 3 sayatan. "Jurusmu itu pasti ada titik celahnya dan baru saja kau membukanya" ujar kakek Tou ketika Mishima terguling sakit dan menabrak rumah penduduk. "Jadi, kau ingin bermain serius denganku ya kek?" katanya sambil berdiri dengan bantuan kapaknya dan memegang perutnya. "Apa seranganku tadi terlalu keras kepadamu anak muda?". "Yang begini aku sudah biasa" katanya sedikit tersengal-sengal. 'Nafas orang ini cepat sekali, tak kusangka ada orang yang seperti ini' pikir kakek Tou. "Daripada kita bertarung seperti ini, bagaimana jika kita berunding saja kakek tua?" tawar Mishima. "Apa yang mau kau tawarkan?" tanya kakek Tou dengan sedikit hati-hati. "Begini, aku ingin kau bergabung dengan Chesspada sebagai anggota. Bagaimana?". "Hmm... Coba kupikir sejenak" kata kakek Tou sambil menyilangkan tangannya "Mungkin aku akan menolak". "Apa yang membu..." belum selesai bicara, kakek Tou menyela "Tapi, ada satu syarat jika kau ingin merekrutku jadi anggota". "Apa itu?".
"Jadikan aku ketua Chesspada, maka kau boleh mengambil desa ini" katanya sambil menancapkan pedangnya ke tanah. "Apa yang kau bilang?" teriak Mishima. "Ya, itu jabatan yang aku inginkan di Chesspada. Jika tidak mau, ya sudah" kata kakek Tou sambil menoleh ke arah yang lain. "Kurang ajar kau kakek tua" sambil mengangkat kapaknya dan mengarahkan ke depan "Serang dia, pasukan andalanku!" teriaknya. Seketika itu dari dalam tanah, muncul beberapa pasukan berseragam seperti kaisar Cina berwarna coklat membawa Nunchaku dari berbagai arah. Wajah mereka ditutup oleh kain hitam layaknya ninja. "Serang!" teriak Mishima. Mereka langsung loncat ke arah kakek Tou. Jumlah mereka diperkirakan ratusan orang, hampir dua kali lipat dari pasukan yang dibawa Mishima saat perjalanan. 'Aku tidak bisa mengalahkan mereka semua' sambil mencabut kembali pedangnya 'Aku harus melakukan sesuatu'. Tiba-tiba saja "Ice ball!".
Sebuah bola es berukuran bola tenis berada tepat di atas kakek Tou. "Ternyata benar ulahmu ya, Tusk" kata kakek Tou menoleh ke sebelah kanan. Bola itu menyebabkan semua menjadi lambat, tergantung dari pengguna jurus tersebut. "Lama tak jumpa Tou. Kau semakin tua saja" kata Tusk sambil berjalan menuju Kakek Tou. "Huh, selalu itu yang kau katakan ketika bertemu denganku". "Hei hei, itu kan sudah biasa. Jangan kau anggap serius terus, aku tak sanggup melihatmu mati di sini". "Hng.... Bisakah kita menghentikan pembicaraan kita sebentar?" tawar kakek Tou. "Boleh juga" jawab Tusk "Sepertinya, mereka terlalu banyak untukmu, kek. Butuh bantuan?" sambil membelakangi kakek Tou. "Itu yang aku perlukan" kakek Tou juga membelakangi Tusk dengan siap menebas. 'Sial... Siapa dia sebenarnya? Mengapa aku juga tak bisa bergerak?' pikir Mishima.
"Sudah siap?" tanya kakek Tou. "Selalu" kata Tusk dengan tenang. Secara bersamaan, mereka berdua menebas semua pasukan yang baru saja ingin menyerang